Karena Selalu Kita, Bukan Mereka I
Tania, Kampus, 2 Januari 2011
Aku melihatnya! Aku melihatnya!
Aku langsung duduk manis di tempat dudukku. Dalam diam, bola mataku mengikuti sosoknya yang baru saja memasuki kelas. Ah, senyum itu! Tak pernah lepas dari wajah jenakanya. Senyum yang paling kusukai.
Kuperhatikan dia menyapa beberapa teman. Tersenyum bahkan tertawa.
Hatiku benar-benar berpesta pora, apalagi saat kulihat dia mulai berjalan ke arahku. Aku langsung menunduk. Mempersiapkan hatiku agar tidak bereaksi secara berlebihan karena sudah beberapa hari tidak mendengar suaranya.
Dan ketika dia telah meletakkan tasnya seperti biasa di bangku sebelahku, ketika aku mulai berharap hubungan kami bisa kembali seperti sedia kala, ketika aku hampir tersenyum padanya, mendadak tangan seseorang menepuk pundakku.
“Sayang!”
Aku pun menoleh kepada asal suara.
Rizal.
Hatiku langsung kehilangan semangat.
Ciko, Kampus, 2 Januari 2011
Aku telah mempersiapkan hatiku hari ini. Aku akan meminta maaf padanya. Tidak berbicara dengannya berhari-hari membuatku benar-benar tersiksa.
Begitu aku melangkah ke dalam kelas, aku melihat dia. Telah duduk di tempat biasa kami berdampingan di kelas. Mungkin dia sudah tidak marah padaku. Syukurlah dia tidak lagi menghindariku seperti beberapa hari terakhir ini. Mungkin dia menunggu permintaan maaf atas kata-kata kasarku tempo hari.
Dan tekatku semakin bulat.
Setelah menyapa beberapa teman, aku langsung berjalan ke arahnya.
Dan ketika meletakkan tas, ketika mulutku hampir mengucapkan sapaan yang sudah beberapa hari tidak kuberikan padanya, ketika aku hampir mengucapkan kata maaf itu, seseorang menepuk pundaknya.
Tania berpaling kepada orang itu.
Rizal.
Hatiku langsung kehilangan semangat.
Tania, Tempat Kos, 5 Januari 2011
Aku duduk termangu sambil memandangi Blackberry yang sedang kugenggam. Sama sekali tidak berniat membalas pesan dari seseorang yang entah sudah berapa kali mem-ping kontakku. Rizal.
Namun, alih-alih kepada Rizal, pikiranku malah tertuju pada Ciko.
Sahabat baikku.
Hatiku selalu berontak setiap mengatakan hal itu. Karena dia adalah orang yang kepadanya lah hatiku tertuju.
Bagaimana Rizal?
Dia adalah pacar yang sangat menyayangiku, tetapi bukan kepadanya lah kuberikan kepedulianku.
Kejam? Tidak.
Justru aku menerima Rizal dua minggu yang lalu karena aku tidak ingin melihatnya bersedih dan terluka. Dia sudah lama mendekatiku, dan aku tidak tega menolaknya. Dan karena hal itulah, Ciko marah besar padaku. Dia mengataiku bodoh.
Memang saat Ciko mengatakan hal itu dua minggu yang lalu, aku tidak terima. Tapi sekarang aku merasa bisa saja dia benar. Ya, akhirnya aku mengakui kebodohanku. Aku mencintai Ciko, tapi malah berpacaran dengan Rizal.
Ciko, Tempat Kos, 7 Januari 2011
Aku belum berbicara dengan Tania genap dua minggu. Hal ini membuatku hampir gila. Aku menatap layar laptopku, lama sekali. Wallpaper yang sama, fotoku bersama Tania. Senyum yang lebar. Bersamaku, dia selalu bahagia. Maka dari itu, aku seperti kerasukan saat Tania bercerita dia menerima Rizal.
Apa yang salah? Kenapa aku bisa-bisanya kecolongan? Aku menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku pada Tania, namun semuanya malah jadi terlambat.
Aku benar-benar ingin muntah setiap mengingat cara Rizal menatap Tania.
Hei, itu gadisku. Kenapa kubiarkan bersama orang lain?
Ciko, Kampus, 10 Januari 2011
Aku memegang kamera kesayanganku. Membidik objek apapun yang bisa ku temukan. Dan ntah bagaimana caranya, wajah Tania selalu menjadi magnet bagi lensa kamera ini. Aku melihatnya dari lensa, dia sedang tertawa. Aku pun mengambil beberapa posenya secara diam-diam. Dia berada di lantai atas, sama sekali tidak menyadari aku sedang memotretnya. Ah, aku benar-benar kesepian tidak mendengar tawanya itu.
Selagi asyik memotret Tania, lensaku menangkap kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Tania. Langsung kujatuhkan lenganku lalu kualihkan wajah dari pemandangan itu. Kehadiran Rizal di sisi Tania selalu menjatuhkan moodku.
Aku menjauh dari tempat asalku berdiri, kemudian duduk di sebuah bangku taman. Aku senang sepi menemaniku di saat aku patah hati seperti ini.
“Halo. Ngapain disini, Ko?” Seseorang mengagetkanku.
“Rara?” Aku tersenyum. Begitupun Rara.
“Lagi hunting objek foto buat pameran ya?” tanya Rara. Aku mengangguk saja. Rara ini, teman sekelasku, yang juga anak fotografi.
“Emang disini ada yang bagus?” tanya Rara lagi.
“Tadinya ada,” jawabku kalem. Dia hanya tersenyum kecil, aku tau dia tidak mengerti maksudku.
“Kamu mau ikut aku gak hunting foto ke Jogja lusa?” Sinar matanya penuh harap. Aku menunduk, berniat menyembunyikan senyumku. Ternyata gadis ini masih belum menyerah. Dulu memang dia pernah mendekatiku, tapi sama sekali tidak kutanggapi. Dan sekarang sepertinya dia kembali mencoba keberuntungannya.
Ntah mungkin karena aku terlanjur frustasi dibuat persoalan Tania, mulutku malah dengan santainya berkata, “Boleh.”
Rara tersenyum. Aku membisu.