Karena Selalu Kita, Bukan Mereka II
Tania, Kantin Kampus, 12 Januari 2011
Rizal membawakan nampan makananku dengan santainya. Aku bukannya tersanjung, diam-diam hatiku malah menjerit. Dia terlalu perhatian, kelewat perhatian.
Aku rindu Ciko.
Jika makan siang bersama Ciko, kami hanya akan membawa nampan makanan kami masing-masing sambil menceritakan kartun atau acara bola yang disiarkan tadi malam. Tapi tidak ada hal yang seasik itu jika aku bersama Rizal.
“Sayang, mikirin apa?” Rizal melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahku. Aku menunduk, tidak berani menatap matanya, “Ada tugas.”
“Belum selesai?” Dia kelihatan khawatir.
Berlebihan, pikirku malas.
Aku hanya menggeleng.
“Jadi bagaimana?” tanyanya.
“Kita selesaiin makan dulu ya,” jawabku. Dia pun menyerah, seperti mengerti aku sedang tidak mood untuk diajak berbicara.
Lalu perhatianku teralih ketika pintu kantin terbuka, dua orang memasuki kantin dengan santainya. Dan kesantaian mereka malah membuat hatiku tidak santai. Aku duduk gelisah di bangkuku.
Kenapa Ciko terlihat akrab dengan Rara? Rara memang dulu pernah secara blak-blakan mendekati Ciko, tapi bukannya Ciko sudah mengatakan dia tidak akan menanggapi Rara? Ada apa ini?
Mereka membawa nampan makanan mereka dan anehnya, malah berjalan ke arah kami. Mereka pun duduk tepat di samping aku dan Rizal. Ciko terlihat tidak menyadari aku duduk tepat di sebelahnya, dia terlalu konsentrasi memandang Rara. Kenapa, Ciko?
“Terus, kita bakal hunting fotonya dimana aja, Ra?” Suara Ciko terdengar sangat bersemangat.
“Menurut aku, pertama kali kita ke Borobudur aja, gimana?” Rara menanggapi.
Aku diam. Kita? Borobudur? Jogja?
Apa Rara dan Ciko berniat pergi ke Jogja berdua?
Aku semakin gelisah.
“Oke. Yang penting lusa kita harus berangkat!” Ciko tersenyum. Begitu pun Rara.
Rara, Ciko itu seharusnya hanya milikku, hatiku menjerit.
Ciko, Kantin Kampus, 12 Januari 2011
Betapa terkejutnya aku ketika begitu memasuki kantin, ternyata Tania juga sedang berada di sana. Dan kakiku semakin gentar ketika Rara secara tak sengaja menunjuk bangku kosong di sebelah Tania dan Rizal untuk tempat kami duduk. Aku tidak ingin terlihat sedang menghindari Tania yang bersama Rizal, maka kuputuskan untuk mengikuti kemauan Rara.
Tapi egoku terluka saat melewati Tania karena aku malah tidak diberikannya kesempatan untuk melemparkan senyum. Dia dengan entengnya memalingkan wajahnya dariku tepat ketika aku mengira ini waktu yang tepat untuk mengajaknya berbaikan.
Aku jadi semakin tidak peduli untuk membicarakan perihal keberangkatanku berdua bersama Rara ke Jogja. Toh, Tania tidak akan peduli.
Dan memang benar.
Selesai membahas keberangkatan kami, saat aku berani berpaling ke sebelah bangkuku, Tania sudah tidak ada lagi disana. Dia dan Rizal menghilang.
Tania, Kampus, 12 Januari 2011
“Sayang, kamu kenapa pergi tiba-tiba?” Rizal terus mengejarku. Aku sama sekali tidak peduli. Sudah cukup kebohongan ini! Aku lelah!
“Sayang!” Rizal menahan tanganku. Aku jadi berhenti melangkah.
“Kamu kenapa?” tanyanya. Ada nada sedih dalam suaranya.
Aku berbalik.
Rizal menatapku. Ada ribuan permintaan maaf yang harus kuucapkan padanya.
“Zal…” bisikku pelan. Aku merasa ada duri dalam tenggorokanku. Namun, aku benar-benar harus mengatakan hal ini.
“Zal, sebenarnya aku cinta sama Ciko…”
Aku terperangah.
Kalimat itu bukan berasal dariku.
Aku lama menahan diri untuk menatap pandangan terluka Rizal.
“Aku benar kan?” Dia akhirnya melepas tanganku.
“Zal, maaf!” Hanya itu yang bisa kuucapkan.
“Kamu harus bahagia, Tan. Kamu harus nurutin kata hati kamu. Aku bukan penghalang kamu. Jangan sampai kamu sedih karena aku.”
“Zal…”
“Kamu…bahagia ya…Tan…”
Ciko, Stasiun Kereta, 14 Januari 2011
Aku duduk di samping Rara dengan gelisah. Aku tidak sanggup melakukan perjalanan ini. Meski aku bukanlah siapa-siapa bagi Tania, tapi pergi bersama wanita selain dia membuatku merasa mengkhianatinya.
Aku memandang layar Blackberry ku dalam diam.
Tidak ada bbm, pesan atau telepon dari Tania. Satu pun tidak ada. Padahal dia pasti mendengar percakapanku dengan Rara tempo hari di kantin.
Rupanya dia benar-benar sudah tidak peduli.
“Ko… kereta udah mau berangkat loh…” Suara Rara mengagetkanku.
“Ah iya,” jawabku, lesu.
Aku mengangkat tasku.
Ketika kakiku hendak melangkah masuk ke dalam kereta, handphone ku bergetar.
Masih tidak ada sms, telepon, atau bbm.
Yang ada hanya sekedar PING!
Dan itu dari Tania!!!
Aku tertegun. Hatiku seperti kembali utuh. Kakiku batal melangkah.
“Ko?” Rara menyentak lamunanku.
Aku menatapnya. Bukan wajah ini yang ingin ku ajak pergi. Bukan Rara.
“Ra, maaf…” Aku menggeleng, Rara terlihat heran.
“Ra, aku harus pergi!”
Tania, Tempat Kos, 14 Januari 2011
Aku tidak berani menelepon, mengirim pesan atau apapun.
Aku terdiam lama di dalam kamar kosku. Setiap mengingat hari ini adalah hari keberangkatan Ciko dengan Rara ke Jogja, hatiku terus merasa sakit.
Layar Blackberry ku menunjukkan layar chat kepada profil Ciko. Aku bahkan tidak tau harus mengatakan apa. Dua hari aku terus berpikir, namun satu kata pun tidak ada yang pantas kuucapkan padanya.
Aku memilih menu, lalu dengan keberanian penuh kutekan tanda PING! kontak. Sambil berdoa.
Beberapa detik kemudian tanda PING! itu hanya di-read, tidak dibalas.
Aku menangis. Ciko benar-benar akan pergi.
Ciko, Tempat Kos Tania,14 Januari 2011
Nafasku masih belum teratur ketika mengetok pintu kamar kos Tania.
Jantungku yang juga masih belum teratur semakin kencang berdebarnya ketika Tania membukakan pintu kamarnya.
Aku tersenyum saat dia menyadari ada aku di hadapannya. Matanya yang tadinya sembab sekarang terbelalak begitu lebar.
“Kamu…bukannya pergi sama…Rara?” Dia terbata-bata.
Aku tertegun lagi. Ternyata dia tau, dia peduli. Mungkinkah itu penyebab dia menangis? Sedihkan dia jika aku harus pergi bersama Rara?
Aku hanya menggeleng.
Dia tersenyum, terlihat lega sampai hampir menangis. Aku rasanya ingin meloncat kegirangan.
“Aku bodoh. Aku gak cinta sama Rizal. Aku minta maaf, Ko. Aku gak mau kehilangan kamu, maaf, tapi aku sayangnya sama kamu. Baikan yuk, Ko?” Dia sesunggukan. Sambil mengulurkan tangannya.
Aku menggeleng lagi. Dia terkejut. Kelihatan semakin terpuruk.
Aku memberanikan diri menarik Tania ke dalam pelukanku, “Aku gak mau kita baikan. Aku mau kita pacaran….”
Tania, cinta sudah lama memilih kita, bukan mereka…
“Jangan pergi sama cewek lain lagi!” Tania menangis lagi dalam pelukanku.
“Jangan pacaran sama cowok lain lagi!” sindirku.
Kami tertawa.